Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum

2.1 Konsep Dasar Kurikulum

  1. Pengertian Kurikulum

UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 pasal 1 (19), menyebutkan bahwa:

“Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai  tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.”

Sedangkan dalam pasal 36 (3) UU No. 20 Tahun 2003, menyebutkan bahwa:

“Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan peningkatan iman dan taqwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangungan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, perkembangan IPTEK dan seni, dinamika pembangunan global serta persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.”

  1. Landasan Pengembangan Kurikulum

            Dengan pengembangannya kurikulum mengacu pada tiga unsur yang biasa disebut sebagai determinan (faktor-faktor penentu) pengembangan kurikulum, yaitu:

  1. Nilai dasar yang merupakan falsafah dalam pendidikan manusia seutuhnya.
  2. Fakta empirik yang tercemin dari pelaksaan kurikulum baik berdasarkan penilaian kurikulum, studi maupun survey lainnya.
  3. Landasan teori yang menjadi arahan pengembangan dan kerangka penyorotnya.

Agar pengembangan kurikulum dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan, maka dalam pengembangan kurikulum diperlukan landasan-landasan pengembangan kurikulum.

  1. Landasan Filosofis

Filsafat yang hidup dalam masyarakat merupakan landasan filosofis penyelenggaraan pendidikan. Untuk landasan filosofis pengembangan kurikulum di Indonesia secara tepat, yakni nilai dasar yang merupakan falsafah dalam pendidikan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu Pancasila.

  1. Landasan Sosial, Budaya dan Agama

Nilai – niali yang perlu dihormati dan dipertahankan oleh individu-individu dalam masyarakat mencakup nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai sosial budaya. Nilai-nilai keagamaan berhubungan erat dengan kepercayaan masyarakatdan ajaran agama yang dianut, sedangkan nilai sosial budaya masyarakat bersumber pada hasil akal budi manusia. Dengan demikian, apabila terdapat nilai-nilai sosial budaya yang tidak diterima atau tidak disesuaian dengan akalnya akan dilepaskan. Untuk melaksanakan penerimaan, penyebarluasan, pelestarian atau penolakan dan pelepasan nilai-nilai sosial budaya dan agama, maka masyarakat memanfaatkan pendidikan yang dirancang melalui kurikulum.

  1. Landasan Pengetahuan

Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik (siswa) menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah nilai-nilai yang bersumber pada pikiran atau logika, sedangkan seni bersumber dari perasaan atau estetika. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung akan menjadi isi atau materi pendidikan, sedangkan secara tidak langsung memberikan tugas kepada pendidikan untuk membekali masyarakat dengan kemampuan pemecahan masalah yang dihadapi sebagai pengeruh perkembangan IPTEK.

  1. Landasan Kebutuhan dan Perkembangan Masyarakat

Perkembangan masyarakat dipengaruhi oleh falsafah hidup, nilai-nilai, IPTEK dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. IPTEK mendukung perkembangan masyarakat dan kebutuhan masyarakat akan membantu menetapkan perkembangan yang dilaksanakan. Perkembangan masyarakat akan menuntut tersedianya proses pendidikan yang sesuai dengan masyarakat, maka diperlukan rancangan berupa kurikulum yang landasan pengembangannya berupa kebutuhan dan perkembangan masyarakat itu sendiri.

 

  1. Komponen Kurikulum

Nana Sukamadinata mengemukakan empat komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan evaluasi (Dimyati, 2002: 261).

  1. Tujuan

Hiekarki vertikal tujuan kurikulum di Indonesia paling tinggi adalah tujuan pendidikan nasional, tujuan kelembagaan, tujuan kurikuler dan tujuan pengajaran.

  1. Materi atau Pengalaman Belajar

Isi atau materi kurikulum adalah semua pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan sikap yang terorganisasi dalam mata pelajaran atau bidang studi. Pengalaman belajar dapat diartikan sebagai kegiatan belajar tentang apa atau belajar bagaimana disiplin berpikir dari suatu disiplin ilmu. Dengan demikian jelaslah bahwa baik materi atau isi kurikulum dan pengalaman belajar harus dipikirkan dan dikaji serta diorganisasikan dalam pengembangan kurikulum.

  1. Organisasi

Kurikulum merupakan suatu rencana untuk belajar, maka isi dan pengalaman belajar membutuhkan pengorganisasian sedemikian rupa sehingga berguna bagi tujuan-tujuan pendidikan. Pengorganisasian kurikulum berkaitan dengan aplikasi semua pengetahuan yang ada tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dan masalah proses pembelajaran. Masalah utama organisasi kurikulum berkisar pada ruang lingkup, sekuensi, kontinuitas dan integrasi.

  1. Evaluasi

Komponen evaluasi ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa maupun ke-efektifan kurikulum dan pembelajaran. Evaluasi kurikulum secara luas, tidak hanya menilai dokumen tertulis, tetapi juga kurikulum yang diterpakan sebagai bahan-bahan fungsional dari kejadian-kejadian yang meliputi interaksi siswa, guru, material dan lingkungan yang tepat. Kegiatan evaluasi akan memberikan informasi dan data tentang perkembangan belajar siswa maupun keefektifan kurikulum dan pembelajaran, sehingga dapat dibuat keputusan pembelajaran dan pendidikan secar tepat.

  1. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

Prinsip – prinsip pengembangan kurikulum, diantaranya:

  1. Prinsip berarientasi pada tujuan.
  2. Prinsip relevansi.
  3. Prinsip efisiensi.
  4. Prinsip efektifitas.
  5. Prinsip fleksibilitas.
  6. Prinsip integrasi.
  7. Prinsip kontinuitas.
  8. Prinsip sinkronisasi.
  9. Prinsip objektifitas.
  10. Prinsip demokrasi.
  11. Prinsip praktis.

2.2 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

  1. Dasar Pemikiran Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor yang saling terkait. Oleh karena itu, dalam proses pengembangan kurikulum tersebut tidak hanya menuntut keterampilan teknis, tetapi harus pula dipahami berbagai faktor yang mempengaruhinnya.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan lahir sebagai jawaban terhadap kritikan tentang Kurikulum 1994 dan merevisi Kurikulum Berbasis Kompetensi serta disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

  • Pengembangan Kurikulum Tingkat Nasional

Pada tingkat ini, pengembangan dibahas dalam lingkup nasional, meliputi jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah, baik secara vertikal maupun horisontal dalam rangka merealisasikan tujuan pendidikan nasional.

Secara vertikal berkaitan dengan kontinuitas pengembangan kurikulum antara berrbagai jenjang pendidikan  (pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi). Sedangkan secara horisontal berkaitan dengan keselarasan antar berbagai jenis pendidikan dalam berbagai jenjang.

  • Pengembangan Kurikulum Tingkat Lembaga

Pengembangan kurikulum tingkat lembaga dilakukan pada masing-masing satuan pendidikan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, antara lain:

  1. Mengembangkan kompetensi lulusan serta merumuskan tujuan-tujuan pendidikan tiap lembaga pendidikan.
  2. Selanjutnya dikembangkan bidang studi-studi yang akan diberikan untuk merelasikan tujuan tersebut.
  3. Mengembangkan dan mengidentifikasi tenaga kependidikan yang diperlukan.
  4. Mengidentifikasi fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk kemudahan belajar siswa.
  • Pengembangan Kurikulum Tingkat Bidang Studi

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah:

  1. Menentukan jenis kompetensi dan tujuan setiap bidang studi.
  2. Mengelompokkan kompetensi sesuai dengan ranah pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
  3. Mengembangkan indikator untuk setiap kompetensi, serta kriteria pencapaiannya.
  • Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Bahasan

Berdasarkan kompetensi-kompetensi yang telah diidentifikasi dan diurutkan sesuai dengan tingkat pencapaiannya pada setiap bidang studi, selanjutnya dikembangkan program-program pembelajaran. Pengembangan kurikulum pada tingkat ini adalah menyusun dan mengembangkan paket-paket unit atau modul.

  1. Konsep Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP dikembangkan oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/ madrasah dibawah koordinasi dan supervise dinas pendidikan / kantor Debag Kabupaten/ Kota untuk pendidikan dasar dan dinas pendidikan/ kantor depag untuk pendidikan menengah dan pendidikan khusus.

Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan KTSP sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada:

  1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 36, 37 dan pasal 38.
  2. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.
  3. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi satuan pendidikan dasar dan menengah.
  4. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan dimasing-masing satuan pendidikan, KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur, muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.

Daftar Pustaka

Dakir. 2010. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2002. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s